Kamis, 30 September 2010

Konflik Harimau Berlangsung di Konsesi Sinar Mas

Pekanbaru (ANTARA) - Manajemen Sinar Mas Forestry menyatakan konflik manusia versus harimau Sumatera yang berlangsung di kawasan penyangga Cagar Biosfer Bukit Batu terjadi di area konsesi milik perusahaan yang kini tengah diklaim warga.
"Daerah konflik itu berlangsung di area konsesi kita yang diklaim milik masyarakat setempat dan telah beralih fungsi menjadi perkebunan kelapa sawit," ujar Humas Sinar Mas Forestry, Nurul Huda, di Pekanbaru, Kamis.
Ia menjelaskan, terdapat sekitar 8.000 hektare dari total 44.000 hektare lahan Hutan Tanaman Industri (HTI) PT Sakato Pratama Makmur --mitra pemasok bahan baku industri pulp dan kertas Sinar Mas Forestry yang bernaung di bawah bendera Asia Pulp and Paper (APP)--yang diklaim milik warga.
Pihak perusahaan sendiri telah menempuh berbagai upaya persuasif untuk mengembalikan lahan yang diklaim milik warga oleh masyarakat setempat itu, namun hingga kini belum juga membuahkan hasil.
Dari total luas lahan 44.000 hektare itu, sekitar 12.000 hektare diantaranya diperuntukan perusahaan pemasok bahan baku kertas Sinar Mas itu sebagai area konservasi Cagar Biosfer Bukit Baku yang berada diwilayah administratif Kabupaten Bengkalis, Riau.
"Jadi tidak benar kalau konflik manusia versus harimau terjadi di dalam wilayah cagar biosfer itu sendiri, sebagaimana yang dinyatakan kalangan pemerhati lingkungan beberapa hari lalu," tegasnya.
Nurul juga mengatakan, PT Sakato Pratama Makmur tidak menjadi bagian dari 11 perusahaan yang mendapatkan izin tebang berupa rencana kerja tahunan (RKT) dari Kementerian Kehutanan yang diterbitkan pada awal tahun 2010.
"Sakato telah beroperasi selama 14 tahun, dan kini sedang memasuki musim tanam ketiga setelah sebelumnya tanaman industri yang ada telah dipanen sebanyak dua kali," katanya lagi.
Konflik manusia versus harimau di kawasan penyangga Cagar Biosfer Bukit Batu dilaporkan semakin memanas menyusul diterkamnnya seekor sapi, hewan ternak warga oleh harimau liar yang terus berkeliaran di pemukiman setelah pekan lalu seorang warga ditemukan tewas akibat harimau.
Organisasi konservasi World Wildlife Fund menyatakan, hingga kini konflik manusia versus harimau masih berlangsung di Cagar Biosfer Bukit Batu sebagai dampak rusaknya habitat sekitar kawasan konservasi.
Humas World Wildlife Fund (WWF), Riau Syamsidar menyatakan, konflik terjadi akibat rusaknya habitat harimau menyusul terjadinya aktivitas pembukaan hutan yang diduga dilakukan perusahaan, sehingga mempersempit ruang gerak binatang buas itu.
Pekan lalu, Sugianto (35), seorang warga Dusun Air Raja, Desa Tanjung Leban, Kecamatan Bukit Batu, Bengkalis ditemukan tewas mengenaskan akibat diterkam harimau yang berada PT Sakato Pratama Makmur yang mendapatkan izin RKT menhut tahun 2010 seluas 5.932 hektare.
WWF Riau mencatat, beberapa waktu lalu seorang warga juga ditemukan tewas akibat diterkam harimau di konsesi HTI PT Ruas Utama Jaya, salah satu mitra pemasok bahan baku kertas Sinar Mas Forestry, di lanskap konservasi blok Hutan Sinepis.
Balai Konservasi Sumber Daya Alam Riau menduga, kerusakan habitat harimau di Cagar Biosfer Bukit Batu sebagai dampak aktivitas perusahaan pemegang izin yang berada di sekitar kawasan konservasi itu.
"Kebetulan di cagar biosfer itu ada kegiatan besar-besaran pembukaan lahan untuk hutan tanaman industri. Tapi jika kegiatan itu merusak kawasan konservasi, tolong diberi tahu," ujar Kepala BKSDA Riau, Trisnu Danisworo.

Sejarawan: Gerakan 30 September Tidak Akan Terungkap

Yogyakarta (ANTARA) - Peristiwa Gerakan 30 September 1965 tidak akan pernah terungkap secara utuh karena seluruh tokoh kunci gerakan tersebut sudah meninggal dunia, kata sejarawan dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Budiawan.
"Rangkaian kejadiannya memang dapat terlacak, tetapi siapa yang sesungguhnya menjadi dalang gerakan tersebut tidak akan pernah diketahui karena sudah tidak ada tokoh kunci gerakan tersebut yang masih hidup," katanya di Yogyakarta, Kamis.
Selain itu, menurut dia versi-versi sejarah tentang Gerakan 30 September yang diungkapkan para ahli hanya mengungkapkan secara sepotong-sepotong dan sebagian besar tidak melalui metodologi penelitian baku.
"Versi tunggal yang digunakan oleh rezim Orde Baru ternyata juga tidak sepenuhnya benar, cenderung mendramatisasi fakta, bahkan berbagai pihak menganggap versi Soeharto dongeng belaka," katanya.
Selain itu, ia mengatakan diskriminasi yang dialami oleh mantan tahanan politik Orde Baru telah mengakibatkan beban psikologis kepada para mantan tahanan politik tersebut.
"Setelah mereka dibebaskan tidak serta merta mereka mendapatkan kebebasan yang sesungguhnya karena pada kenyataannya mendapat stigma sangat buruk dari kalangan masyarakat," katanya.
Ia mengatakan diskriminasi tersebut tidak hanya datang dari negara dan masyarakat, bahkan para mantan tahanan politik Orde Baru mendapat diskriminasi dari saudara mereka.
"Situasi yang mengondisikan para mantan tahanan politik tersebut menjadi pihak yang serba salah. Orde Baru berperan besar dalam menciptakan diskriminasi tersebut," katanya.
Menurut dia, aparatur negara tidak merasa mendiskriminasikan para mantan tahanan politik karena merasa memiliki payung hukum yang sah untuk menempatkan para mantan tahanan politik sebagai warga yang patut dibedakan.
"Oleh karena itu sampai saat ini para mantan tahanan politik tersebut masih menyimpan trauma dan menanggung beban psikologis yang sangat berat," katanya.

Nusa Dua, Bali diguncang gempa 5,7 SR

Nusa Dua-Bali,

Gempa 5,7 Skala Ritcher mengguncang Barat Daya Nusa Dua-Bali sekitar pukul 08:24 WIB, Jumat (01/10). Badan Metereologi, Klimatologi dan geofisika (BMKG) memastikan, gempa di Bali ini tidak berpotensi tsunami.

BMKG melansir, gempa ini berada di kedalaman 10 kilometer dengan lokas11.23 LS - 113.66 BT.  Pusat gempa berada 320 Km Barat Daya Nusa Dua-Bali, 325 km Barat Daya Kuta-Bali, 331 km Barat Daya Tanah Lot-Bali, 333 km Barat Daya Denpasar-Bali, 944 km Tenggara Jakarta.

Sejarah Presiden Di Indonesia


#PresidenMulai menjabatSelesai menjabatPartaiWakil PresidenPeriode
1SoekarnoSoekarno.jpg18 Agustus 194519 Desember 1948PNIMohammad Hatta1
Syafruddin Prawiranegara
(Ketua PDRI)[1]
Sjafrudin prawiranegara.jpg19 Desember 194813 Juli 1949NonpartisanLowong
Soekarno13 Juli 194927 Desember 1949PNIMohammad Hatta
Soekarno
(Presiden RIS)[2]
27 Desember 194915 Agustus 1950PNILowong
Assaat
(Pemangku Sementara
Jabatan Presiden RI)
[2]
Assaat PYO.jpgNonpartisan
Soekarno15 Agustus 19501 Desember 1956PNIMohammad Hatta
1 Desember 195622 Februari 1967Lowong
2Soeharto
(Pejabat Presiden)[3]
President Suharto, 1993.jpg22 Februari 196727 Maret 1968Golkar
Soeharto27 Maret 196824 Maret 19732
24 Maret 197323 Maret 1978Hamengkubuwana IX3
23 Maret 197811 Maret 1983Adam Malik4
11 Maret 198311 Maret 1988Umar Wirahadikusumah5
11 Maret 198811 Maret 1993Soedharmono6
11 Maret 199310 Maret 1998Try Sutrisno7
10 Maret 199821 Mei 1998Baharuddin Jusuf Habibie8
3Baharuddin Jusuf HabibieBacharuddin Jusuf Habibie official portrait.jpg21 Mei 199820 Oktober 1999GolkarLowong
4Abdurrahman WahidPresident Abdurrahman Wahid - Indonesia.jpg20 Oktober 199923 Juli 2001PKBMegawati Soekarnoputri9
5Megawati SoekarnoputriPresident Megawati Sukarnoputri - Indonesia.jpg23 Juli 200120 Oktober 2004PDIPHamzah Haz
6Susilo Bambang YudhoyonoSusilo Bambang Yudhoyono official presidential portrait 2009.jpg20 Oktober 200420 Oktober 2009Partai DemokratMuhammad Jusuf Kalla10
20 Oktober 2009Sedang menjabatBoediono11